Rabu, 02 April 2014

Pembangunan Infrastruktur Harus Perhitungan Resiko Bencana Alam

Pembangunan infrastruktur di Indonesia perlu mempertimbangkan fenomena bencana alam yang kerap terjadi di negeri ini. Apalagi geografis dan sifat alami Indonesia yang berada di lingkaran Pasifik ring of fire menjadikannya sangat rentan bencana alam, seperti gempa, gunung meletus, banjir, dan lain sebagainya.
“Karenanya harus ada kebijakan maupun panduan yang disesuakan untuk Infrastruktur di Indonesia terkait penanganan resiko bencana alam tersebut”, ujar Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Hediyanto W. Husaini pada Seminar dengan topik “Policy of Disaster Safe Infrastructure in Indonesia,” khususnya disaster managerial and technical policy on infrastructure of public works, di Padang Senin (24/06).
Menurut Hediyanto, kebijakan yang mengurangi resiko bencana alam , pembangunan infrastruktur yang mempertimbangkan resiko  tersebut dan pemberdayaan masyarakat dalam menghadapinya adalah keharusan. Karena tidak mungkin melaksanakan sebuah program apapun itu, jika terjadi kejadian luar biasa diluar kuasa semua pihak, seperti bencana alam.
Masih segar dalam memori semua rakyat Indonesia, dalam beberapa dekade terakhir ini saja, tercatat telah terjadi bencana alam dengan tingkat kerusakan yang tinggi dengan korban jiwa dan pengungsi mencapai jumlah ribuan. Seperti gempa bumi dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam pada tahun 2004, gempa bumi di Nias pada tahun 2006, gempa bumi di Sumatera Barat pada tahun 2009 dan gunung berapi di Jawa Tengah pada tahun 2010. Belum lagi banjir tahunan yang kerap melanda pada bebera area di Indonesia.
Oleh karena itu, Kementerian Pekerjaan Umum memiliki panduan berupa kebijakan dalam melakukan pengurangan dampak bencana alam, baik sebelum, saat terjadi  dan setelah bencana alam.
Kebijakan tersebut tertuang dalam pengaturan penataan ruang, pengenalan early warning systems, penggunaan materal dan perlengkapan saat tanggap darurat, pertimbangan jalur evakuasi, akses, pemulihan infrastruktur pubik dengan rehabilitasi dan rekonstruksi program yang dijelaskan dalam kesempatan tersebut.
Seminar ini terlaksana melalui kerjasama Indonesia – Perancis yang diadakan di Univesitas Andalas, Padang selama 2 hari pada tanggal 24 – 25 Juni 2013. Kepala BP Konstruksi menjadi salah satu narasumber dengan tema “Land Use Planning in Coastal Regions Facing Natural Risks”.
 “I do expect this conference will provide shared ideas and knowledge as well as lessons learned on how to cope with disasters, that we have been experiencing for very long time”, ungkap Hediyanto di akhir materinya. (mey/tw/hl) #Padang 25/06/2013 (BP Konstruksi)

Tidak ada komentar: