Sektor konstruksi Indonesia saat ini dirasa masih belum mampu bersaing dengan asing. Hal ini diakibatkan karena banyaknya kendala yang dihadapi para kontraktor Indonesia, terutama di bidang permodalan.
"Saat ini permodalan yang belum diberikan maksimal untuk mendukung pelaku jasa konstruksi Nasional menembus pasar global. Bagaimana mungkin bisa bersaing jika modal saja masih harus mengais kesana kemari," ungkap Kepala BP Konstruksi, Hediyanto Hediyanto W. Husaini yang dikutip dari laman Kementerian Pekerjaan Umum, Rabu (13/8/2014).
Yang kedua yaitu dari segi rantai pasok konstruksi. Saat ini menurut dia, material peralatan belum tersedia dengan baik di Indonesia.
"Tak jarang perusahaan konstruksi harus menghentikan proyek pekerjaan karena kekurangan material atau belum ada jaminan akan ketersediaannya," ungkap dia.
Yang ketiga yaitu dari sisi sumber daya manusia. Menurut ia, SDA Indonesia ini membutuhkan dukungan dari banyak pihak.
“Insinyur kita rata-rata hanya 200 orang per hari, sedangkan di Korea sudah mencapai 1.000 orang per hari. Jumlah yang masih jauh untuk diraih. Dari semua hal tersebut sangat perlu untuk menambah wawasan pelaku sektor konstruksi," ucapnya.
Menurut dia, agar sektor konstruksi Indonesia dapat berkembang kemampuan teknis adalah salah satu kuncinya. Sosialisasi dan networking juga menjadi tambahan upaya untuk mendorong jasa konstruksi lebih berdaya saing.
“Jangan sungkan untuk belajar dari private sektor jika memang perlu,” tutup dia
sumber :KLIK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar