Sempat mengalami kelambatan pembangunan mega infrastruktur di kuartal
pertama 2015, Pemerintah Indonesia di kuartal ketiga ini tengah fokus
untuk menggenjot kembali pembangunan di bidang infrastruktur. Dapat
dipastikan, untuk mendorong niatan tersebut, konsumsi bahan bangunan
dalam negeri tentunya akan meningkat.
Saat ini hampir semua proyek infrastruktur dan pembangunan gedung menggunakan konstruksi beton karena durabilitasnya dan ketahannya yang sangat baik. Lalu apakah teknologi beton yang diadopsi oleh pelaku industri konstruksi Indonesia sudah memadai?
Bertempat di Grand Ball Room Hotel Kempinski baru-baru ini, SRMI (SCG Readymix Indonesia) mencoba menjawab permasalahan tersebut melalui SCG Readymix Grand Seminar 2015 : Modern Concentrate Construction dengan tema “A Part of Indonesia Infrastructure Development.”
Rencana pemerintah untuk menggenjot pembangunan infrastruktur di kuartal ketiga, sepertinya bakal menjadi magnet tersendiri bagi para pelaku bisnis di industri konstruksi untuk terlibat meramaikan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
“Pada kuartal kedua pertumbuhan ekonomi kita mencapai 5,27 persen, dan sedang terus digenjot agar terus meningkat. Dari sisi industri nasional, pada 2035 diharapkan dapat berkonstribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 30 persen dengan pertumbuhan industri sebesar 10 persen,” kata Sekjen Kementerian Perindustrian, Syarif Hidayat saat ditemui Rumahku.com.
Pada acara ini juga diselenggrakan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA), antara SCG dengan Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) dalam rangka untuk mengembangkan dan menyebarkan perkembangan teknologi konstruksi ke masyarakat Indonesia. Selain itu, SCG juga bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung untuk mengembangkan produk beton baru sesuai kebutuhan pasar.
“Kami optimis dengan adanya kerja sama tersebut, industri konstruksi di Indonesia dapat lebih maju sehingga Indonesia dapat memiliki infrastruktur yang lebih baik,” kata Davy Sukamta, Ketua Umum HAKI
Saat ini hampir semua proyek infrastruktur dan pembangunan gedung menggunakan konstruksi beton karena durabilitasnya dan ketahannya yang sangat baik. Lalu apakah teknologi beton yang diadopsi oleh pelaku industri konstruksi Indonesia sudah memadai?
Bertempat di Grand Ball Room Hotel Kempinski baru-baru ini, SRMI (SCG Readymix Indonesia) mencoba menjawab permasalahan tersebut melalui SCG Readymix Grand Seminar 2015 : Modern Concentrate Construction dengan tema “A Part of Indonesia Infrastructure Development.”
Rencana pemerintah untuk menggenjot pembangunan infrastruktur di kuartal ketiga, sepertinya bakal menjadi magnet tersendiri bagi para pelaku bisnis di industri konstruksi untuk terlibat meramaikan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
“Pada kuartal kedua pertumbuhan ekonomi kita mencapai 5,27 persen, dan sedang terus digenjot agar terus meningkat. Dari sisi industri nasional, pada 2035 diharapkan dapat berkonstribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 30 persen dengan pertumbuhan industri sebesar 10 persen,” kata Sekjen Kementerian Perindustrian, Syarif Hidayat saat ditemui Rumahku.com.
Pada acara ini juga diselenggrakan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA), antara SCG dengan Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) dalam rangka untuk mengembangkan dan menyebarkan perkembangan teknologi konstruksi ke masyarakat Indonesia. Selain itu, SCG juga bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung untuk mengembangkan produk beton baru sesuai kebutuhan pasar.
“Kami optimis dengan adanya kerja sama tersebut, industri konstruksi di Indonesia dapat lebih maju sehingga Indonesia dapat memiliki infrastruktur yang lebih baik,” kata Davy Sukamta, Ketua Umum HAKI
sumber :
KLIKLOK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar