
Selalu banyak pendapat mengenai faktor kunci terkait keberhasilan dan tidak berhasilnya kontraktor. Kali ini dari Buku Project Management for Construction oleh Christ Hendrickson, memberikan hasil survey dan risetnya terhadap kontraktor dan owner.
Tetaplah selalu menarik untuk membahas
kontraktor. Ironi pendapat keuntungan kontraktor yang besar dan fakta
bahwa kontraktor justru cenderung merugi, lalu persepsi kurang baik
terhadapnya dalam masyarakat konstruksi Indonesia dengan kenyataan kerja
keras kontraktor yang luar biasa adalah buktinya. Contractor is never
ending story…
Jika pada tulisan terdahulu disampaikan
dan dibahas faktor kesuksesan atau critical success factors (CSFs)
proyek, maka kali ini lebih spesifik dan lengkap dimana proyek adalah
proyek konstruksi dan pihak yang disurvey adalah owner dan kontraktor.
Tentu menarik untuk dibahas, terutama pada perspektif kontraktor.
Hasil Survey
Survey dilakukan pada enam kontraktor.
Hasil survey pada kontraktor, disebutkan tujuh faktor kunci keberhasilan
dalam mengerjakan proyek, yaitu:
- Lingkup yang terdefinisi dengan baik.
- Perencanaan lebih awal dan pada lebih banyak aspek.
- Kepemimpinan, manajemen dan pengawasan lini depan yang baik.
- Hubungan klien yang positif dengan keterlibatan klien.
- hubungan erat yang sesuai dengan tim proyek.
- Respon cepat untuk berubah.
- Enginering Managers memperhatikan proyek secara keseluruhan, tidak hanya elemen engineering.
Di samping itu, disebutkan pula faktor utama yang menyebabkan proyek menjadi tidak sukses, yaitu:
- Definisi lingkup yang jelek.
- Manajemen yang lemah.
- Perencanaan yang tidak baik.
- Putusnya komunikasi antara engineering dan construction.
- Lingkup, schedule, dan budget yang tidak realistis.
- Banyak perubahan pada berbagai tahap proggres.
- Lemahnya pengendalian proyek.
Komparasi Dengan Kontraktor Indonesia
Bagi para kontraktor di Indonesia, dapat
menghubungkan hasil survey diatas dengan fakta yang terjadi dalam
mengerjakan proyek konstruksi. Bagi penulis, hampir semua hasil survey
di atas adalah cocok dengan apa yang terjadi pada kontraktor di
Indonesia. Tingginya kegagalan kontraktor memenuhi objective proyek
seperti kualitas yang baik, tidak terlewatinya schedule, dan realisasi
biaya yang tidak melebihi rencana dalam batas yang dikehendaki dapat
dilihat pada faktor utama ketidaksuksesan kontraktor.
Bukankah telah dibahas betapa lemahnya
pendefinisian lingkup pada kontraktor kita? Jujur saja penulis belum
pernah melihat suatu WBS yang komprehensif hingga sekarang. Lingkup
pekerjaan tidak pernah didokumentasikan dengan baik sebelum proyek
dimulai atau saat awal proyek. Item pekerjaan yang harus dilakukan hanya
diingat dengan sesekali melihat kontrak terutama BQ, walaupun jenis
kontrak adalah lump sum yang harus melihat RKS dan gambar. Kontraktor
tidak pernah sadar betapa banyaknya item pekerjaan yang harus dikerjakan
yang begitu kompleks untuk hanya diingat saja.
Lalu pada aspek manajemen. Penulis juga
tidak pernah melihat bentuk perencanaan manajemen proyek yang baik.
Jikapun ada hanya dalam bentuk dokumen yang diwajibkan oleh perusahaan,
namun dibuat asal-asalan yang tidak menjadi pedoman bagi proyek dalam
mengelola proyek.
Aspek perencanaan setali tiga uang
dengan aspek manajemen. Sulit sekali untuk menemukan personil proyek
yang terbiasa melakukan perencanaan dalam melaksanakan proyek dan
menjadikannya sebagai pedoman yang penting. Contoh, master schedule
selalu dibuat dalam proyek tapi tidak pernah dijadikan pedoman dalam
mengendalikan waktu pelaksanaan proyek. Lihatlah begitu populernya
S-curve dibandingkan dengan Bar-chart plus CPM (Critical Path Method).
Tidak pernah ada pembahasan dalam rapat proyek yang membahas item kritis
schedule hasil dari CPM tersebut. Menunjukkan tingkat pemahaman
perencanaan schedule yang masih lemah.
Komunikasi antara bidang engineering dan
construction adalah isu klasik yang selalu berisi konflik. Kedua bidang
itu seringkali berjalan secara sendiri-sendiri. “Gap / weakness area”
menjadi ruang konflik yang tiada akhir.
Tidak realistisnya lingkup, schedule,
dan biaya adalah cerita biasa. “Ini adalah tantangan, yang penting
proyek harus didapat lebih dulu…”. Kira-kira begitulah kata kontraktor.
Schedule yang mepet dianggap bisa diatasi dengan percepatan dan bekerja
overtime (bekerja mati-matian). Lalu biaya yang tidak realistis dianggap
bisa diatasi dengan strategi “khusus” yang kadang menyerempet wilayah
yang rentan terhadap hukum.
Permintaan perubahan juga dianggap hal
yang biasa terjadi tanpa sadar konsekuensinya atas proses manajemen
proyek. Mungkin karena kurang memahami bagaimana manajemen proyek yang
baik.
Pengendalian proyek juga lebih cenderung
dilakukan sekedarnya bahkan tidak sedikit tanpa pengendalian.
Pengendalian biaya yang lebih condong pada proses mencatat biaya
ketimbang mengidentifikasi early warning atas cost overrun. Pengendalian
waktu hanya dengan menghitung selisih pencapaian dan rencana progress
berdasarkan S-Curve, sehingga jarang teridentifikasi item pekerjaan
kritis schedule yang harus dikelola dengan skala prioritas tinggi.
Apalagi pengendalian kualitas. Buktinya selama di proyek, tidak pernah
ada kontraktor manapun yang dapat melakukan evaluasi mutu beton dengan
benar sesuai code & standart. Contoh lain dalam inspeksi pekerjaan
penulangan yang hanya menghitung jumlah dan mutu besi tulangan. Padahal
bukankah jarak tulangan terhadap serat beton terluar adalah penting
dalam menjaga kapasitas momen sesuai rencana?
Ternyata penyakit kontraktor itu
dimanapun hampir sama. Pembedanya mungkin pada tingkat parahnya penyakit
yang terjadi. Pemahaman ini harus membawa pada kesadaran yang tinggi
untuk melakukan perubahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar