Kamis, 12 Februari 2015

LPSE WONOGIRI-----Sustainable Construction, Tuntutan Pembangunan Masa Depan



Gedung Graha Wonokoyo
Gedung Graha Wonokoyo
SURABAYA – Kesadaran akan green building, green environment dan proyek ramah lingkungan terus meningkat. Tuntutan pembeli  akan green building mengharuskan pengembang membangun proyek ramah lingkungan. Ini momen bagus bagi kelestarian lingkungan, menjaga lingkungan tetap asri, nyaman dan sehat untuk ditinggali.
Aslakhul Umam Account & Officer Manager BCA Asia Surabaya melihat kesadaran tinggi akan green building terus meningkat. Baik itu dari pembeli dan pengembang, sehingga terjadi sinergi yang saling menguntungkan kedua pihak. Semangat itu kini bisa dilihat dari banyaknya pengembang yang menawarkan proyek property ramah lingkungan, baik untuk skala menengah ataupun besar.
“Dilihat dari jumlahnya masih kecil, baru 30 persen proyek menggunakan konsep green building. Jumlah ini terus meningkat seiring makin tingginya proyek ramah lingkungan atau sustainable construction,” jelasnya.
Umam melihat tidak saja pengembang, pembeli, melainkan juga produsen bahan baku property seperti Pabrikan semen (Holcim, Semen Indonesia, Tiga Roda) dan sejenisnya. Juga produsen seperti batako ringan yang semuanya ramai-ramai menerapkan konsep ramah lingkungan.
“Di Surabaya sendiri, sudah banyak gedung tinggi ramah lingkungan. Salah satunya Graha Wonokoyo yang architect nya yang melakukan recycle facade glass jadi energy. Pengembang besar lain seperti Ciputra, Pakuwon, Intiland juga sudah menerapkan konsep pembangunan ramah lingkungan,” jelasnya.
BCA Asia sendiri sangat concern terhadap proyek ramah lingkungan dan memacu pengembang dan kontraktor untuk menerapkan green construction. Karena dengan konsep hijau menjadi nilai tambah bagi sebuah proyek dimana makin banyak pembeli, khususnya dari perusahaan multinasional yang mensyaratkan kantor yang disewa atau dibangun ramah lingkungan.
Hingga 2017 mendatang, Surabaya bakal menambah 9.452 unit apartemen baru sehingga total pasokan mencapai 18.594 unit. Sementara di sektor perkantoran, meski konsentrasi masih terjadi di Surabaya Pusat, namun secara umum, terdapat tambahan pasokan baru sebanyak 193.081 meter persegi dari 17 proyek perkantoran. Jumlah ini menambah ruang perkantoran menjadi 471.679 meter persegi hingga 2016 mendatang.
Sebelumnya diberitakan, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengharuskan pengembang untuk membangun secara vertikal. Pasalnya, Surabaya sulit memiliki fasilitas ruang publik dan ruang terbuka hijau.
“Oleh karena itu, mulai sekarang Surabaya tengah mempersiapkan diri menuju Kota Hijau 2020. Regulasi yang perlu didukung, dengan cuaca Surabaya panas, sangat pas bila konsep Kota Hijau diaplikasikan. Sehingga Surabaya tetap menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali. Saat ini penghijauan dan taman di kota Surabaya sudah kelihatan bagus, menjadi penyeimbang teriknya cuaca saat panas,” jelasnya.

SUMBER :KLIK

LPSE WONOGIRI-------2015 dan Rencana HEBAT Konstruksi Indonesia

Pertama-tama, Saya ucapkan Selamat Tahun Baru 2015 pada pembaca blog ini. Semoga tahun ini akan menjadi tahun yang lebih semangat, dan penuh berkah bagi kita. Semoga 2015 adalah juga tahun awal yang hebat bagi industri konstruksi Indonesia seperti yang akan saya ceritakan pada posting perdana awal tahun kali ini.
Banyak peristiwa yang terjadi melintasi 2014. Hiruk-pikuk Pilpres, kenaikan BBM, hingga ditutup dengan hiruk-pikuk musibah kecelakaan pesawat yang menimpa AirAsia QZ8501 di penghujung akhir tahun. Begitu pula dengan perkembangan terkait proyek di Indonesia. Mulai dari tarik-ulur pembangunan Jembatan Selat Sunda, hingga rencana pelaksanaan proyek infrastruktur yang terkesan masif yang menjadi prioritas pemerintahan baru Jokowi – JK.

Sebenarnya, tak salah jika pemerintah mengusung program andalan percepatan infrastruktur. Salah satu indikatornya adalah ketertinggalan Indonesia bahkan di ASEAN sekalipun dalam hal infrastruktur.
Sebagai negara yang berangan-angan ingin menjadi Macan Asia dalam hal ekonomi, Infrasruktur Indonesia berada dalam peringkat 64 dari 148 negara dan peringkat 5 dari 9 negara ASEAN. Indonesia bahkan sudah kalah dengan Thailand dan Vietnam. Indonesia seperti lelap tertidur ketika yang lain begitu aggresif. Dampaknya, hutang infrastruktur yang harus dibangun demi menggapai asa begitu banyaknya.

Industri konstruksi jelas akan terangkat perannya dalam pembangunan Indonesia setidaknya dalam lima tahun ke depan. Beban yang ditumpukan akan jauh lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya akibat dari banyaknya rencana proyek infrastruktur yang harus segera dikerjakan. Dari sumber Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), berikut adalah sebagian rencana pembangunan infrastruktur pemerintah dan sedikit penjelasannya :
  • Proyek pembangkit listrik 35.000 MW yang diwacanakan pemerintah dalam lima tuhn ke depan untuk mengatasi krisis listrik nasional. Ini setara 70 proyek per tahun pembangkit listrik kapasitas 100 MW dimana diperkirakan per satu proyek 100 MW akan menelan biaya sekitar 1,5 Triliun. Padahal kontraktor EPC di Indonesia yang kategori mampu melaksanakan mungkin tidak lebih dari 10 kontraktor dimana tiap kontraktor mungkin hanya sanggup melaksanakan proyek ini per tahun sekitar 3-5 proyek secara bersamaan. Padahal durasi pelaksanaan satu proyek ini rata2 adalah sekitar 2 tahun. Secara kasar, kapasitas kontraktor Indonesia adalah sekitar 25% saja.
  • Pembangunan 2.650 km jalan baru, konstruksi jalan tol sepanjang 1.000 km, dan pemeliharaan jalan sepanjang 46.770 km. Khusus jalan tol saja, Indonesia hanya memiliki 900 km sd 2014 dengan kecepatan pembangunan adalah 30 km / tahun. Jika target 1000 km adalah untuk 5 tahun, maka target per tahun menjadi 200 km. Terlepas dari masalah lahan, social, dan birokrasi, kontraktor nasional yang mampu melaksanakan jalan tol pun tidak banyak. Mereka harus dipaksa meningkatkan produktifitas pengerjaan jalan tol hampir 7 kali lipat.
  • Di sektor udara, akan dibangun 15 bandara baru, pengadaan 20 pesawat perintis, dan pengembangan bandara untuk pelayanan kargo udara di enam lokasi. Pembangunan bandara baru umumnya juga terhadap oleh masalah lahan dan atau justru tetap harus beroperasinya bandara eksisting. Untuk membangun satu bandara yang cukup besar, kontraktor besar harus joint operation. Jika ada 15 bandara baru dalam lima tahun, maka setidaknya ada 3 bandara per tahun. Ini masih cukup realistis jika tanpa proyek infrastruktur lainnya.
  • Di sektor pelabuhan, pemerintah harus membangun 24 pelabuhan baru. Selain diprogramkan pengadaan 26 kapal barang perintis, dua kapal ternak, 500 unit kapal rakyat, dan 50 kapal penyeberangan perintis. Kontraktor yang mampu untuk mengerjakan pelabuhan ukuran menengah hingga besar juga tidak banyak. Dengan durasi pengerjaaan rata2 sekitar 3 tahun dan jumlah kontraktor besar yang mampu hanya kontraktor besar pelat merah, maka jelas akan overload.
  • Pembangunan 3.258 km jalur kereta api di Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Jalur-jalur itu terdiri atas 2.159 km jalur kereta api antar kota dan 1.099 km antar provinsi. Target pembangunan per tahun menjadi 652 km. Perlu diketahui bahwa total panjang jalur rel kereta api Indonesia sd 2014 adalah 7583 km yang mulai dibangun sejak pra kemerdekaan yaitu 1864 atau sudah 150 tahun. Kecepatan pembangunan menjadi 50,6 km/tahun. Sehingga perlu peningkatan produktifitas hingga hampir 13 kali.

Beberapa rencana massif infrastruktur di atas saja, kontraktor nasional akan terjengal-jengal. Tapi masih ada yang lain, yaitu :
  • Sektor pertanian. Rencana pemerintah akan membangun 30 waduk baru dan 33 PLTA, 1 juta hektare jaringan irigasi, dan rehabilitasi 3,3 juta hektare jaringan irigasi.
  • Di sektor energi, pemerintah menargetkan pembangunan dua kilang minyak berkapasitas produksi 2×300 ribu barel, perluasan kilang minyak di Cilacap dan Balongan.
  • Di sektor teknologi ada pembangunan jaringan pitalebar (broadband) untuk menjangkau selauruh daerah.
  • Di bidang properti, pemerintah akan membangun rusunawa 5.257 twin blok, bantuan stimulan swadaya 5,5 juta rumah tangga. Ada juga penanganan kawasan kumuh 37.407 hektare, dan fasilitas kredit perumahan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk 2,5 juta rumah tangga.
  • Proyek sistem penyediaan air minum (SPAM) di perkotaan sebanyak 21,4 juta sambungan rumah dan 11,1 juta sambungan rumah di pedesaan.

Total biaya infrastruktur pemerintahan baru mencapai 6500 triliun dalam lima tahun atau sekitar 1300 triliun per tahun. Dari aspek biaya tersebut, saya mencoba membuat hitung-hitungan sederhana terkait kapasitas kontraktor nasional sebagai berikut :
  • Perkembangan anggaran infrastruktur Indonesia sejak tahun 2011 sd 2014 berturut-turut adalah 145 T, 177 T, 184 T, dan 206 T. Nilai ini memiliki pertumbuhan 42% dalam 3 tahun atau rata2 sekitar 14% / tahun.
  • Swasta dianggap berperan 40% terhadap total. Sehingga swasta berkontribusi sekitar 140 T pada 2014.
  • Total kapasitas kontraktor nasional menjadi 346 T / tahun pada tahun 2014.
  • Anggaran infrastruktur Indonesia tersebut dianggap sebagai acuan dalam menghitung kapasitas kontraktor nasional dengan tingkat penyerapan diasumsikan sebesar 80% dan keseluruhan dikerjakan oleh kontraktor nasional Indonesia (BUMN dan Swasta). Sehingga kapasitas kontraktor nasional pada 2014 adalah 80% x 346 T = 277 T. Digenapkan menjadi sekitar 300 T/tahun.
  • Pertumbuhan normal konstruksi nasional dianggap rata2 15%. Sehingga kapasitas kontraktor nasional pada 2015 menjadi mendekati 345 Triliun.
  • Rasio pemenuhan kapasitas kontraktor nasional terhadap program percepatan infrastruktur pemerintah menjadi 345 T / 1300 T = +/- 26,5%

Lantas bagaimana sisanya atau cara memenuhinya? Apakah akan kita biarkan kontraktor luar mengambil peran ini dengan dasar MEA? Inilah tahun HEBAT bagi industri konstruksi nasional yang harus disertai rencana strategis yang matang yang mejadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaku konstruksi Indonesia. Hal ini karena kualitas infrastruktur kitapun masih tertinggal.

Pembahasan di atas baru sebatas kapasitas kontraktor nasional. Kita masih harus memikirkan hulu ke hilir yang lain seperti :
  • Ketersediaan material utama yaitu semen, besi, batu, pasir, dan kayu. Naik hampir 4x lipat jelas bukan perkara gampang
  • Ketersediaan tukang yang terkesan sepele, namun sekarang saja sudah terasa kurang
  • Kemampuan pengelolaan oleh Owner dan konsultan
  • Pendanaan 1300 T butuh perbaikan dimana-mana
  • Ketersediaan lahan dan termasuk problem sosial serta antisipasi dampak lingkungan
  • Regulasi yang masih kurang mendukung
  • Transportasi yang masih mahal dan kurang
  • Risiko kurs yang masih menghantui jika harus belanja modal besar dengan import
  • Dll
Well, ini bukan pekerjaan mudah. Perlu rencana dan kerjasama HEBAT mulai tahun baru 2015. Bersiaplah menyongsong TANTANGAN BESAR demi MEMBANGUN NEGRI !

Sumber :
klik